“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” --Yakobus 1:19-21
Nasihat Yakobus ini mengandung pengertian yang vital bagi hubungan pribadi kita dengan Tuhan: firman yang berkuasa menyelamatkan jiwa kita hanya dapat tertanam dan berbuah maksimal jika diterima dengan hati yang lemah lembut, bukan dengan hati yang penuh kemarahan. Hati yang penuh kemarahan adalah penghalang hubungan yang akrab dengan Tuhan, karena sikap seperti ini membuat anda sulit menerima pernyataan isi hati Tuhan.
Kemarahan bukanlah dosa, namun bisa membuat Anda lebih mudah berbuat dosa, dan memberi kesempatan kepada iblis (Efs. 4:26-27). Inilah yang dialami Kain. Saat korbannya tidak diterima, Tuhan menegur dia, ”Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika kamu berbuat baik? ….dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kej. 4:6-7). Namun Kain terbukti tidak mampu menguasai dosa dalam kemarahannya dan malah membunuh adiknya. Melihat potensi negatif dari amarah manusia ini, wajarlah bila iblis berupaya menjerat Anda dalam dosa melalui kemarahan!
Bill Gothard mendefinisikan kemarahan sebagai ‘suatu sistem alarm batin yang menyingkapkan hak-hak pribadi yang tidak kita serahkan kepada Allah, atau mengambilnya kembali dari-Nya.’ Bila Anda marah, artinya ada hal-hal penting yang sedang dalam bahaya, atau ada hak-hak yang sedang direnggut dari hidup anda. Bisa saja kemarahan itu dipendam sedemikian lama sampai akarnya sulit diidentifikasi, bagai meluruskan benang yang kusut. Akibatnya hati anda tidak lembut/peka lagi untuk mendengarkan suara Tuhan dan merasakan hadiratNya.
Solusinya, mintalah Roh Kudus menyatakan penyebab kemarahanmu. Biarkan Ia meredakan kegeraman hatimu (Ams. 15:1a). Kenalilah hak-hak yang masih anda pegang dengan erat, lalu serahkan kepada Tuhan. Teruslah tinggal dalam hadiratNya sampai damai itu memenuhi hatimu. Bila hati Anda sudah demikian keras oleh kemarahan selama bertahun-tahun, biarkan RohNya memberikan hati yang baru (Yeh. 36:26-27), yaitu hati yang lembut dan siap mengalami persekutuan dengan Bapa!
Saturday, April 18, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment