Sunday, May 10, 2009

Daniel: Excellent Spirit (Part 1)

Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.” (Daniel 6:4)

Situasi yang dialami Daniel intinya sama saja dengan kondisi dunia kerja abad 21 saat ini: penuh kompetisi, intrik, office politics dan perebutan kekuasaan. Daniel menjadi sasaran konspirasi licik dari para pejabat tinggi lainnya, yang ingin melenyapkan Daniel dan merampas posisinya. Saya melihat ada tiga alasan mengapa para petinggi ini sangat iri pada Daniel: mereka melihat perkenanan Tuhan (God’s favor) yang luar biasa, roh yang excellent, serta tentu saja pengaruh Daniel yang jauh melebihi mereka. Kali ini, mari kita membahas mengenai excellent spirit (diterjemahkan “roh yang luar biasa” di Alkitab kita) yang ada pada Daniel.

Excellent di sini berarti “superior, jauh lebih baik, tidak bercela.” Hal ini sesuai dengan fakta bahwa para konspirator di sekitar Daniel “tidak mendapat alasan apa pun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya” (Daniel 6:5). Seringkali kasih dan penerimaan Tuhan pada kita secara apa adanya membuat kita berpikir bahwa Tuhan selalu maklum dengan kekurangan kita, dan bahwa Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup secara “superior, jauh lebih baik, tidak bercela” di hadapan dunia yang penuh kegelapan ini.

Namun Tuhan ingin dunia ini melihat spirit of excellence pada diri kita. Tuhan ingin dunia ini melihat bahwa kinerja kita di kantor, sikap kita di tengah tekanan, dan kehidupan kita secara keseluruhan, memiliki kualitas yang “superior, jauh lebih baik, tidak bercela” dibanding orang-orang lain. Bayangkan bila dunia memberi kesaksian seperti ini tentang karya Tuhan dalam hidup Anda:

…dalam kerajaan tuanku ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus! …ada terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa.. pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja…" (Daniel 5:11-12).

Hidup dengan spirit of excellence adalah sebuah kesaksian yang dahsyat bagi dunia ini.

Saturday, April 18, 2009

Ukuran

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum….ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi…Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:37-38)

Suka atau tidak suka, Tuhan menetapkan bahwa hidup kita akan selalu diukur berdasarkan ukuran yang kita ukurkan pada orang lain. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita semua akan diukur dalam empat hal: penghakiman, penghukuman, pengampunan dan memberi. Untuk memudahkan kita selalu mengingatnya, anggaplah Tuhan memberikan empat ‘rekening bank’ beserta buku tabungannya pada kita.

Rekening dan buku tabungan yang pertama adalah penghakiman. Tuhan mau ‘rekening’ yang satu ini tetap nol dan tidak bertambah. Bila kita mengukurkan penghakiman pada orang lain, maka account penghakiman kita akan bertambah, dan ukuran yang sama akan diukurkan pada kita. Mengenai penghakiman Tuhan Yesus berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat. 7:1). Cek buku tabungan penghakiman Anda. Apakah tetap kosong? Atau semakin bertambah?

Buku tabungan yang kedua adalah penghukuman. Hanya Tuhan yang berhak menghukum, bukan kita. Seperti halnya dengan ‘rekening’ penghakiman, ‘rekening’ yang satu ini juga harus tetap kosong. Bila kita mengukurkan penghukuman pada orang lain, maka account penghakiman kita akan bertambah, dan ukuran yang sama akan diukurkan pada kita.

Pengampunan adalah buku tabungan kita yang ketiga. Berlawanan dengan penghakiman dan penghukuman, Tuhan ingin agar kita selalu mengampuni (Kol.3:23). Bahkan dengan tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa bila kita tidak mengampuni orang lain maka Bapa juga tidak mengampuni kita. Bagaimana dengan account Anda yang satu ini? Semakin banyak Anda mengukurkan pengampunan pada orang lain, semakin banyak pula pengampunan yang diukurkan pada Anda. Begitu pula sebaliknya.

Yang terakhir adalah memberi. Semakin banyak Anda memberi, maka semakin banyak ukuran yang Anda terima. Sebaliknya, bila Anda semakin sedikit memberi (bahkan jarang atau tidak pernah), maka ukuran yang sama akan diukurkan pada Anda. Kapankah terakhir kali Anda memeriksa keempat rekening Anda ini? Bila Anda dihakimi dan dihukum, jangan membalas. Bila Anda disakiti, ampunilah. Bila memiliki berkat dan kesempatan, berkatilah orang lain. Karena ukuran yang sama akan diukurkan pada Anda!

Bukan Lagi Kemarahan, Tapi Damai Sejahtera

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” --Yakobus 1:19-21

Nasihat Yakobus ini mengandung pengertian yang vital bagi hubungan pribadi kita dengan Tuhan: firman yang berkuasa menyelamatkan jiwa kita hanya dapat tertanam dan berbuah maksimal jika diterima dengan hati yang lemah lembut, bukan dengan hati yang penuh kemarahan. Hati yang penuh kemarahan adalah penghalang hubungan yang akrab dengan Tuhan, karena sikap seperti ini membuat anda sulit menerima pernyataan isi hati Tuhan.

Kemarahan bukanlah dosa, namun bisa membuat Anda lebih mudah berbuat dosa, dan memberi kesempatan kepada iblis (Efs. 4:26-27). Inilah yang dialami Kain. Saat korbannya tidak diterima, Tuhan menegur dia, ”Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika kamu berbuat baik? ….dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kej. 4:6-7). Namun Kain terbukti tidak mampu menguasai dosa dalam kemarahannya dan malah membunuh adiknya. Melihat potensi negatif dari amarah manusia ini, wajarlah bila iblis berupaya menjerat Anda dalam dosa melalui kemarahan!

Bill Gothard mendefinisikan kemarahan sebagai ‘suatu sistem alarm batin yang menyingkapkan hak-hak pribadi yang tidak kita serahkan kepada Allah, atau mengambilnya kembali dari-Nya.’ Bila Anda marah, artinya ada hal-hal penting yang sedang dalam bahaya, atau ada hak-hak yang sedang direnggut dari hidup anda. Bisa saja kemarahan itu dipendam sedemikian lama sampai akarnya sulit diidentifikasi, bagai meluruskan benang yang kusut. Akibatnya hati anda tidak lembut/peka lagi untuk mendengarkan suara Tuhan dan merasakan hadiratNya.

Solusinya, mintalah Roh Kudus menyatakan penyebab kemarahanmu. Biarkan Ia meredakan kegeraman hatimu (Ams. 15:1a). Kenalilah hak-hak yang masih anda pegang dengan erat, lalu serahkan kepada Tuhan. Teruslah tinggal dalam hadiratNya sampai damai itu memenuhi hatimu. Bila hati Anda sudah demikian keras oleh kemarahan selama bertahun-tahun, biarkan RohNya memberikan hati yang baru (Yeh. 36:26-27), yaitu hati yang lembut dan siap mengalami persekutuan dengan Bapa!

Tidak Akan Dikuasai Lagi Oleh Dosa

“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Roma 6:14)

“Sebab KAMU TIDAK AKAN DIKUASAI LAGI OLEH DOSA…” adalah berita baik yang ingin saya sampaikan kepada Anda! Inilah rencana Bapa, yaitu melalui pengorbanan AnakNya di kayu salib, kuasa dosa atas Anda dihancurkan. Renungkan ayat berikut ini:

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, SUPAYA TUBUH DOSA KITA HILANG KUASAnya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Roma 6:5-6)

Pada waktu kita percaya pada Yesus sebagai Juruselamat kita, manusia lama kita telah turut disalibkan dan mati bersama Yesus (Rom. 6:3-4; Kolose 2:12; 3:3). Ini berarti bahwa saat Yesus mati di kayu salib, tubuh dosa kita pun mati; akibatnya tubuh dosa kita hilang kuasanya. Karena itu, kita tidak perlu menghambakan diri lagi kepada dosa!

Selain itu, saat Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, maka kitapun dibangkitkan bersama Dia. Kita memiliki kehidupan yang baru dalam roh (manusia batiniah) kita, sehingga oleh Roh Kudus kita dapat melatih, mendisiplin tubuh kita dan menguasainya seluruhnya untuk berjalan dalam kekudusan. Paulus mengatakan, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya SELURUHnya…” (1 Kor. 9:27).

Bagi Anda yang sedang ‘bergumul’ untuk bebas dari kebiasaan buruk atau ketergantungan dengan apapun, renungkan firman ini dan terimalah sebagai suatu kebenaran dan fakta dalam pikiran dan hatimu. Saat sedang belajar melatih dan menguasai tubuh untuk berjalan dalam kekudusan, mungkin Anda merasa tubuh dosa Anda begitu kuat melawan Anda—karena mungkin selama ini Anda tidak ‘menantang’ kekuasaannya—dan Anda merasa roh anda begitu lemah. Berdirilah atas kebenaran ini, dan mulailah belajar menguasai tubuh anda SELURUHnya. Anda dapat berkata bersama dengan Paulus, “…Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (Roma 7:24-25)

Tetap Tinggal di Dalam Dia

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Dalam Yohanes 15 disebutkan bahwa Tuhan Yesus adalah pokok anggur dan kitalah ranting-rantingnya. Artinya, Tuhan Yesus adalah sumber kehidupan kita. Segala yang baik mengalir dari Dia, apa yang kita butuhkan akan kita peroleh dari Dia. Banyak orang mencari-cari rahasia kehidupan yang berbuah (produktif) dan rahasia kehidupan doa yang berkuasa. Mereka mengikuti berbagai seminar dan kebaktian kebangunan rohani di luar negeri, dan mengikuti hamba-hamba Tuhan yang terkenal. Namun ternyata segalanya begitu sederhana: tetaplah melekat pada Dia.

Makna “tinggal di dalam Dia.” Kata “tinggal” berarti tetap pada posisi yang sama, tidak berpindah-pindah, tetap konsisten di tempat yang sama. Apakah Anda tetap dalam persekutuan yang akrab dengan Tuhan Yesus? Apakah Anda tetap “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Maz. 91:1)? “Tinggal” berarti aktif bertindak untuk tetap tenang, beristirahat dalam persekutuan yang intim dengan Dia.

Apakah FirmanNya tinggal di dalam Anda? Jangan biarkan “firman” atau kata-kata yang bukan berasal dari Tuhan tinggal dalam hatimu. Enyahkan semua pikiran dan imajinasi yang tidak memuliakan Tuhan, jangan beri akses masuk dalam hatimu. Ketika Anda menyimpan janjiNya dalam hatimu, maka Anda tidak akan berdosa terhadap Tuhan (Maz. 119:11). Peliharalah dalam hatimu setiap firman kebenaran yang telah didengar sebelumnya. “Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa.” (1 Yohanes 2:24).

Tidak ada pilihan lain. Satu-satunya jalan untuk berbuah adalah dengan tetap tinggal di dalam Dia, dan firman-Nya di dalam kita. Di luar Tuhan Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa dan akan menjadi kering tanpa kehidupan. Iblis ingin Anda keluar dari persekutuan Anda dengan Tuhan, sehingga Anda tidak bisa berbuah lebat dan Bapa tidak dipermuliakan. Ketika kita tetap melekat pada sumber kehidupan, maka apapun yang kita kerjakan akan berhasil.

Tertanam Dalam Gereja Lokal

“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” (2 Timotius 2:22)

Menjauhi godaan dosa dan mengejar apa yang baik ternyata harus dilengkapi dengan satu hal yang penting: hidup bersama dalam komunitas yang tepat. Bentuk nyata dari hidup “bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” adalah tertanam dalam Gereja Lokal. Seringkali sangat mudah berpikir bahwa kita bisa hidup sendiri, mandiri dari bantuan orang lain. Namun kehidupan yang berubah dan berbuah sesuai rancangan Tuhan adalah sebuah kehidupan yang dijalani dalam komunitas rohani.

Komunitas ini adalah sebuah kelompok yang tertanam. Pesan dari 1 Petrus 5:2 bagi para pemimpin rohani adalah: “gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu…” Artinya, gembala tidak bertanggung jawab untuk memelihara semua kawanan yang ada di dunia ini, tapi gembala bertugas memelihara kawanan domba Tuhan yang ada padanya. Tidak ada domba yang berpindah-pindah kawanan. Seekor domba hidup dan dibesarkan dalam sebuah kawanan yang tetap. Dengan kata lain, setiap kita perlu tertanam dan berada dalam suatu kawanan domba yang jelas.

Komunitas ini adalah kelompok yang aman dan diberkati. Musuh kita iblis adalah bagaikan singa (1 Pet. 5:8) yang mengincar Anda sebagai dombaNya. Namun Tuhan Yesus sebagai gembala yang baik dan juga para pemimpin Anda bertugas mengamankan Anda dari bahaya. “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya…” (Ibrani 13:17) Selain itu, komunitas yang hidup dengan rukun dan bersehati adalah komunitas yang diberkati. “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! …Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” (Mazmur 133: 1,3).

Komunitas ini adalah tempat Anda bertumbuh dengan subur. “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita…” (Mazmur 92: 13-16). Mari tertanam di dalam Gereja Lokal.

Tempat Pertama Dalam Hidup Anda

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Ada begitu banyak hal datang silih berganti dalam hidup ini yang berusaha menyita perhatian kita. Keluarga, pekerjaan, hubungan, kesehatan bahkan pelayanan seringkali nampak begitu urgent dan mendesak, sehingga hal yang utama tidak lagi ditempatkan di tempat yang pertama. Kita hidup hanya sekali, dengan waktu yang serba terbatas. Hari demi hari dapat berlalu begitu cepat, dan tanpa disadari apa yang kita ingin utamakan ternyata telah berada di tempat yang tidak seharusnya.

Prioritas Utama Kita. Firman Tuhan mengajarkan bahwa prioritas utama dalam hidup adalah Kerajaan Allah dan kebenarannya. Mendahulukan “Kerajaan Allah” berarti tunduk di bawah pemerintahan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Sedangkan “kebenarannya” menurut Amplified Bible berarti “caraNya bekerja dan caraNya untuk hidup benar.” Mari perhatikan hal yang ada di tempat pertama dalam hidup Anda. Mari ambil keputusan untuk menempatkan hal yang utama di tempat yang pertama. Bukan berarti Tuhan tidak mau Anda menganggap penting hal-hal lainnya, namun Ia ingin ditempatkan di tempat pertama dalam hidup Anda.

Nomor Satu Dalam Hidup Anda. Setiap orang memiliki empat sumber daya dalam hidupnya: waktu, tenaga, bakat, dan uang. Mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya berarti mendahulukan Tuhan dalam empat sumber daya ini. Mulailah hari-hari Anda dengan mencari Tuhan terlebih dahulu, bukan melakukan hal-hal lainnya. Berikan tenaga Anda terlebih dahulu pada kepentingan kerajaanNya. Tempatkan Kerajaan dan kebenaranNya di tempat pertama dalam bakat Anda. Berikan perpuluhan terlebih dahulu kepada Tuhan, sebelum Anda memakai uang Anda untuk berbagai kebutuhan yang ada.

Janji Tuhan Bagi Anda. Banyak orang di dunia ini mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya (baca Matius 6: 24-34), dan mereka tidak bisa mengalami kehidupan kerajaan, berkat kerajaan, kuasa kerajaan, dan anugerah kerajaan. Mengapa? Karena untuk dapat mengalami KerajaanNya, mereka perlu memilih prioritas yang baru: Kerajaan Allah dan kebenaranNya. Jika Anda mendahulukan Tuhan, maka semua yang dicari-cari orang lain itu akan ditambahkan dalam hidup Anda. Inilah rahasia peningkatan dan pertambahan dalam hidup: mendahulukan kerajaanNya.