Saturday, April 18, 2009
Ukuran
Suka atau tidak suka, Tuhan menetapkan bahwa hidup kita akan selalu diukur berdasarkan ukuran yang kita ukurkan pada orang lain. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita semua akan diukur dalam empat hal: penghakiman, penghukuman, pengampunan dan memberi. Untuk memudahkan kita selalu mengingatnya, anggaplah Tuhan memberikan empat ‘rekening bank’ beserta buku tabungannya pada kita.
Rekening dan buku tabungan yang pertama adalah penghakiman. Tuhan mau ‘rekening’ yang satu ini tetap nol dan tidak bertambah. Bila kita mengukurkan penghakiman pada orang lain, maka account penghakiman kita akan bertambah, dan ukuran yang sama akan diukurkan pada kita. Mengenai penghakiman Tuhan Yesus berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat. 7:1). Cek buku tabungan penghakiman Anda. Apakah tetap kosong? Atau semakin bertambah?
Buku tabungan yang kedua adalah penghukuman. Hanya Tuhan yang berhak menghukum, bukan kita. Seperti halnya dengan ‘rekening’ penghakiman, ‘rekening’ yang satu ini juga harus tetap kosong. Bila kita mengukurkan penghukuman pada orang lain, maka account penghakiman kita akan bertambah, dan ukuran yang sama akan diukurkan pada kita.
Pengampunan adalah buku tabungan kita yang ketiga. Berlawanan dengan penghakiman dan penghukuman, Tuhan ingin agar kita selalu mengampuni (Kol.3:23). Bahkan dengan tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa bila kita tidak mengampuni orang lain maka Bapa juga tidak mengampuni kita. Bagaimana dengan account Anda yang satu ini? Semakin banyak Anda mengukurkan pengampunan pada orang lain, semakin banyak pula pengampunan yang diukurkan pada Anda. Begitu pula sebaliknya.
Yang terakhir adalah memberi. Semakin banyak Anda memberi, maka semakin banyak ukuran yang Anda terima. Sebaliknya, bila Anda semakin sedikit memberi (bahkan jarang atau tidak pernah), maka ukuran yang sama akan diukurkan pada Anda. Kapankah terakhir kali Anda memeriksa keempat rekening Anda ini? Bila Anda dihakimi dan dihukum, jangan membalas. Bila Anda disakiti, ampunilah. Bila memiliki berkat dan kesempatan, berkatilah orang lain. Karena ukuran yang sama akan diukurkan pada Anda!
Bukan Lagi Kemarahan, Tapi Damai Sejahtera
Nasihat Yakobus ini mengandung pengertian yang vital bagi hubungan pribadi kita dengan Tuhan: firman yang berkuasa menyelamatkan jiwa kita hanya dapat tertanam dan berbuah maksimal jika diterima dengan hati yang lemah lembut, bukan dengan hati yang penuh kemarahan. Hati yang penuh kemarahan adalah penghalang hubungan yang akrab dengan Tuhan, karena sikap seperti ini membuat anda sulit menerima pernyataan isi hati Tuhan.
Kemarahan bukanlah dosa, namun bisa membuat Anda lebih mudah berbuat dosa, dan memberi kesempatan kepada iblis (Efs. 4:26-27). Inilah yang dialami Kain. Saat korbannya tidak diterima, Tuhan menegur dia, ”Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika kamu berbuat baik? ….dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kej. 4:6-7). Namun Kain terbukti tidak mampu menguasai dosa dalam kemarahannya dan malah membunuh adiknya. Melihat potensi negatif dari amarah manusia ini, wajarlah bila iblis berupaya menjerat Anda dalam dosa melalui kemarahan!
Bill Gothard mendefinisikan kemarahan sebagai ‘suatu sistem alarm batin yang menyingkapkan hak-hak pribadi yang tidak kita serahkan kepada Allah, atau mengambilnya kembali dari-Nya.’ Bila Anda marah, artinya ada hal-hal penting yang sedang dalam bahaya, atau ada hak-hak yang sedang direnggut dari hidup anda. Bisa saja kemarahan itu dipendam sedemikian lama sampai akarnya sulit diidentifikasi, bagai meluruskan benang yang kusut. Akibatnya hati anda tidak lembut/peka lagi untuk mendengarkan suara Tuhan dan merasakan hadiratNya.
Solusinya, mintalah Roh Kudus menyatakan penyebab kemarahanmu. Biarkan Ia meredakan kegeraman hatimu (Ams. 15:1a). Kenalilah hak-hak yang masih anda pegang dengan erat, lalu serahkan kepada Tuhan. Teruslah tinggal dalam hadiratNya sampai damai itu memenuhi hatimu. Bila hati Anda sudah demikian keras oleh kemarahan selama bertahun-tahun, biarkan RohNya memberikan hati yang baru (Yeh. 36:26-27), yaitu hati yang lembut dan siap mengalami persekutuan dengan Bapa!
Tidak Akan Dikuasai Lagi Oleh Dosa
“Sebab KAMU TIDAK AKAN DIKUASAI LAGI OLEH DOSA…” adalah berita baik yang ingin saya sampaikan kepada Anda! Inilah rencana Bapa, yaitu melalui pengorbanan AnakNya di kayu salib, kuasa dosa atas Anda dihancurkan. Renungkan ayat berikut ini:
“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, SUPAYA TUBUH DOSA KITA HILANG KUASAnya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Roma 6:5-6)
Pada waktu kita percaya pada Yesus sebagai Juruselamat kita, manusia lama kita telah turut disalibkan dan mati bersama Yesus (Rom. 6:3-4; Kolose 2:12; 3:3). Ini berarti bahwa saat Yesus mati di kayu salib, tubuh dosa kita pun mati; akibatnya tubuh dosa kita hilang kuasanya. Karena itu, kita tidak perlu menghambakan diri lagi kepada dosa!
Selain itu, saat Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, maka kitapun dibangkitkan bersama Dia. Kita memiliki kehidupan yang baru dalam roh (manusia batiniah) kita, sehingga oleh Roh Kudus kita dapat melatih, mendisiplin tubuh kita dan menguasainya seluruhnya untuk berjalan dalam kekudusan. Paulus mengatakan, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya SELURUHnya…” (1 Kor. 9:27).
Bagi Anda yang sedang ‘bergumul’ untuk bebas dari kebiasaan buruk atau ketergantungan dengan apapun, renungkan firman ini dan terimalah sebagai suatu kebenaran dan fakta dalam pikiran dan hatimu. Saat sedang belajar melatih dan menguasai tubuh untuk berjalan dalam kekudusan, mungkin Anda merasa tubuh dosa Anda begitu kuat melawan Anda—karena mungkin selama ini Anda tidak ‘menantang’ kekuasaannya—dan Anda merasa roh anda begitu lemah. Berdirilah atas kebenaran ini, dan mulailah belajar menguasai tubuh anda SELURUHnya. Anda dapat berkata bersama dengan Paulus, “…Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (Roma 7:24-25)
Tetap Tinggal di Dalam Dia
Dalam Yohanes 15 disebutkan bahwa Tuhan Yesus adalah pokok anggur dan kitalah ranting-rantingnya. Artinya, Tuhan Yesus adalah sumber kehidupan kita. Segala yang baik mengalir dari Dia, apa yang kita butuhkan akan kita peroleh dari Dia. Banyak orang mencari-cari rahasia kehidupan yang berbuah (produktif) dan rahasia kehidupan doa yang berkuasa. Mereka mengikuti berbagai seminar dan kebaktian kebangunan rohani di luar negeri, dan mengikuti hamba-hamba Tuhan yang terkenal. Namun ternyata segalanya begitu sederhana: tetaplah melekat pada Dia.
Makna “tinggal di dalam Dia.” Kata “tinggal” berarti tetap pada posisi yang sama, tidak berpindah-pindah, tetap konsisten di tempat yang sama. Apakah Anda tetap dalam persekutuan yang akrab dengan Tuhan Yesus? Apakah Anda tetap “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Maz. 91:1)? “Tinggal” berarti aktif bertindak untuk tetap tenang, beristirahat dalam persekutuan yang intim dengan Dia.
Apakah FirmanNya tinggal di dalam Anda? Jangan biarkan “firman” atau kata-kata yang bukan berasal dari Tuhan tinggal dalam hatimu. Enyahkan semua pikiran dan imajinasi yang tidak memuliakan Tuhan, jangan beri akses masuk dalam hatimu. Ketika Anda menyimpan janjiNya dalam hatimu, maka Anda tidak akan berdosa terhadap Tuhan (Maz. 119:11). Peliharalah dalam hatimu setiap firman kebenaran yang telah didengar sebelumnya. “Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa.” (1 Yohanes 2:24).
Tidak ada pilihan lain. Satu-satunya jalan untuk berbuah adalah dengan tetap tinggal di dalam Dia, dan firman-Nya di dalam kita. Di luar Tuhan Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa dan akan menjadi kering tanpa kehidupan. Iblis ingin Anda keluar dari persekutuan Anda dengan Tuhan, sehingga Anda tidak bisa berbuah lebat dan Bapa tidak dipermuliakan. Ketika kita tetap melekat pada sumber kehidupan, maka apapun yang kita kerjakan akan berhasil.
Tertanam Dalam Gereja Lokal
Menjauhi godaan dosa dan mengejar apa yang baik ternyata harus dilengkapi dengan satu hal yang penting: hidup bersama dalam komunitas yang tepat. Bentuk nyata dari hidup “bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” adalah tertanam dalam Gereja Lokal. Seringkali sangat mudah berpikir bahwa kita bisa hidup sendiri, mandiri dari bantuan orang lain. Namun kehidupan yang berubah dan berbuah sesuai rancangan Tuhan adalah sebuah kehidupan yang dijalani dalam komunitas rohani.
Komunitas ini adalah sebuah kelompok yang tertanam. Pesan dari 1 Petrus 5:2 bagi para pemimpin rohani adalah: “gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu…” Artinya, gembala tidak bertanggung jawab untuk memelihara semua kawanan yang ada di dunia ini, tapi gembala bertugas memelihara kawanan domba Tuhan yang ada padanya. Tidak ada domba yang berpindah-pindah kawanan. Seekor domba hidup dan dibesarkan dalam sebuah kawanan yang tetap. Dengan kata lain, setiap kita perlu tertanam dan berada dalam suatu kawanan domba yang jelas.
Komunitas ini adalah kelompok yang aman dan diberkati. Musuh kita iblis adalah bagaikan singa (1 Pet. 5:8) yang mengincar Anda sebagai dombaNya. Namun Tuhan Yesus sebagai gembala yang baik dan juga para pemimpin Anda bertugas mengamankan Anda dari bahaya. “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya…” (Ibrani 13:17) Selain itu, komunitas yang hidup dengan rukun dan bersehati adalah komunitas yang diberkati. “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! …Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” (Mazmur 133: 1,3).
Komunitas ini adalah tempat Anda bertumbuh dengan subur. “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita…” (Mazmur 92: 13-16). Mari tertanam di dalam Gereja Lokal.
Tempat Pertama Dalam Hidup Anda
Ada begitu banyak hal datang silih berganti dalam hidup ini yang berusaha menyita perhatian kita. Keluarga, pekerjaan, hubungan, kesehatan bahkan pelayanan seringkali nampak begitu urgent dan mendesak, sehingga hal yang utama tidak lagi ditempatkan di tempat yang pertama. Kita hidup hanya sekali, dengan waktu yang serba terbatas. Hari demi hari dapat berlalu begitu cepat, dan tanpa disadari apa yang kita ingin utamakan ternyata telah berada di tempat yang tidak seharusnya.
Prioritas Utama Kita. Firman Tuhan mengajarkan bahwa prioritas utama dalam hidup adalah Kerajaan Allah dan kebenarannya. Mendahulukan “Kerajaan Allah” berarti tunduk di bawah pemerintahan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Sedangkan “kebenarannya” menurut Amplified Bible berarti “caraNya bekerja dan caraNya untuk hidup benar.” Mari perhatikan hal yang ada di tempat pertama dalam hidup Anda. Mari ambil keputusan untuk menempatkan hal yang utama di tempat yang pertama. Bukan berarti Tuhan tidak mau Anda menganggap penting hal-hal lainnya, namun Ia ingin ditempatkan di tempat pertama dalam hidup Anda.
Nomor Satu Dalam Hidup Anda. Setiap orang memiliki empat sumber daya dalam hidupnya: waktu, tenaga, bakat, dan uang. Mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya berarti mendahulukan Tuhan dalam empat sumber daya ini. Mulailah hari-hari Anda dengan mencari Tuhan terlebih dahulu, bukan melakukan hal-hal lainnya. Berikan tenaga Anda terlebih dahulu pada kepentingan kerajaanNya. Tempatkan Kerajaan dan kebenaranNya di tempat pertama dalam bakat Anda. Berikan perpuluhan terlebih dahulu kepada Tuhan, sebelum Anda memakai uang Anda untuk berbagai kebutuhan yang ada.
Janji Tuhan Bagi Anda. Banyak orang di dunia ini mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya (baca Matius 6: 24-34), dan mereka tidak bisa mengalami kehidupan kerajaan, berkat kerajaan, kuasa kerajaan, dan anugerah kerajaan. Mengapa? Karena untuk dapat mengalami KerajaanNya, mereka perlu memilih prioritas yang baru: Kerajaan Allah dan kebenaranNya. Jika Anda mendahulukan Tuhan, maka semua yang dicari-cari orang lain itu akan ditambahkan dalam hidup Anda. Inilah rahasia peningkatan dan pertambahan dalam hidup: mendahulukan kerajaanNya.
Sesuatu Tersedia di Depan Anda
(Mazmur 31:20)
Saat ini ada begitu banyak orang tidak berani menatap masa depan mereka. Semua begitu kabur dan suram. Sadar atau tidak mereka percaya bahwa ada lebih banyak hal buruk daripada hal baik yang akan terjadi pada mereka. Namun Tuhan memberikan suatu hal yang begitu berbeda: Dia mempersiapkan kebaikan yang berlimpah bagi orang yang takut akan Dia, dan bagi yang berlindung padaNya. Ia suka menunjukkan kebaikan yang berlimpah untuk kita di hadapan orang-orang lain. Mari angkat wajah Anda dan tatap sesuatu yang tersedia di depan Anda: bukan masa depan yang suram, tapi kebaikan yang melimpah.
Dia merencanakan kebaikan. Masih ingat apa yang Yusuf katakan pada saat Tuhan sudah mengangkat dia menjadi perdana menteri Mesir? “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20) Iblis merancang kejahatan dalam hidup Anda, namun Tuhan merancang kebaikan. Kebaikan dan anugerahNya jauh lebih berkuasa dari segala kemalangan yang terjadi dalam hidup Anda. Sesuatu tersedia di depan Anda, yaitu rancangan kebaikan dari Tuhan.
Mengalami happy ending dari Tuhan. “Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” (Yakobus 5:11) Ayub mengalami ujian yang luar biasa, namun ia mengalami “akhir yang disediakan Tuhan”, yaitu sebuah akhir yang penuh dengan kemenangan. Anda juga memiliki sebuah “akhir yang disediakan Tuhan”, karena Tuhan yang Anda sembah adalah Tuhan yang “maha penyayang dan penuh belas kasihan”. Jangan menyerah, jangan berhenti percaya dan setia. Ada happy ending yang berkemenangan tersedia di depan Anda.
Sekalipun Tidak Ada Dasar Untuk Berharap (Part 2)
Menurut Amplified Bible, “he grew strong {and} was empowered by faith as he gave praise {and} glory to God” (ayat 20). Terjemahan bebasnya: Abraham tumbuh semakin kuat oleh iman saat ia memberikan pujian dan kemuliaan pada Allah. Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, iman Abraham bukannya menjadi lemah, namun menjadi semakin kuat—dan ada faktor yang sangat berpengaruh di sini: ia memberikan pujian dan kemuliaan kepada Tuhan. Pujian membawa atmosfir yang menguatkan iman Anda, sebaliknya tanpa pujian iman Anda sulit menjadi lebih kuat.
Discouragement will weaken you. Yesaya 61:3 mengatakan bahwa urapan Roh Kudus akan memberikan, “…the oil of joy for mourning, the garment of praise for the spirit of heaviness” (King James Version). Urapan yang membawa sukacita akan menggantikan kesedihan, dan jubah pujian akan menggantikan roh yang mematahkan semangat Anda. Jangan menganggap remeh semangat yang patah (discouragement). Iblis ingin membuat Anda menyerah dan meninggalkan iman percaya Anda. Dialah yang roh yang yang mematahkan semangat, membawa tekanan, intimidasi, dan beban yang berat, sehingga Anda melihat segalanya menjadi kelam.
Kenakan Jubah Pujian Anda! Ketika beban membuat Anda tawar hati, jangan anggap semua ini hal biasa. Ini adalah peperangan rohani, jangan menyerah dan menerima ketidaknormalan ini. Datanglah ke hadirat Tuhan, kenakanlah jubah pujian Anda! Bukan orang lain yang memakaikan baju pada Anda setiap hari, demikian pula Andalah yang harus memutuskan untuk memakai jubah pujian. Angkat hati Anda, dan pujilah Dia. Lihatlah kebesaranNya. Agungkan Dia, pegang kembali janjiNya, perkatakan Firman yang telah Anda terima. Seperti Abraham, sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Anda akan menjadi semakin kuat dalam iman.
Atmosfir Pujian = Atmosfir Kemenangan! Dalam atmosfir puji-pujian, Anda tahu bahwa Tuhan akan berperang bagi Anda. KuasaNya sanggup menolong Anda. Keluarlah dari atmosfir yang mematahkan semangat Anda. Jadilah kuat dan semakin kuat!
Sekalipun Tidak Ada Dasar Untuk Berharap
Apa yang terjadi ketika Anda sudah tidak ada lagi dasar untuk berharap? Ketika segalanya sudah tertutup dan masa depan terlihat begitu kelamnya? Mari lihat teladan dari Abraham. Walau “tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya” bahwa janji Tuhan tetap akan terjadi baginya. Kita perlu belajar percaya seperti Abraham, bapa orang percaya.
Milikilah janjiNya terlebih dahulu. Abraham tidak sekedar percaya karena suatu kebodohan atau kekonyolan. Ia percaya karena Tuhan memang berjanji kepadanya (baca Kejadian 12). Apakah janji Firman Tuhan yang dihidupkan oleh Roh Kudus dalam hatimu? Jika belum ada, mintalah. Dia adalah Tuhan yang berjanji dan menggenapi.
Percaya Tidak Berarti Mengingkari Kenyataan. “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.” (Roma 4:19) Perhatikan bahwa Abraham mengetahui kenyataan yang ada (tubuhnya sudah sangat lemah, dan rahim istrinya telah tertutup). Kita juga perlu mengerti fakta yang terjadi. Keadaan bisa saja begitu berbeda dengan apa yang kita percayai. Namun jangan biarkan fakta melemahkan iman kita. Berimanlah kepada Tuhan, bukan kepada fakta, karena Dia mampu mengubahkan fakta itu!
Musuh Anda: Bimbang dan Ketidakpercayaan. Sejak awal, rencana Iblis adalah membuat manusia ragu akan firman Tuhan. Iblis telah menerapkan strategi ini pada Adam dan Hawa, bahkan juga ketika ia mencobai Tuhan Yesus. Iblis ingin kita mempertanyakan kebaikan Tuhan dan hidup dengan kekuatan sendiri. Perhatikan teladan Abraham: “tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah” (Roma 4:20). Dalam Amplified Bible, Abraham menjadi “semakin kuat dalam iman”—artinya ada proses. Ketika Anda sedang lemah, jangan menyerah. Belajarlah dari Abraham: tetaplah memandang pada janjiNya (“demikianlah banyaknya nanti keturunanmu… seperti bintang di langit”), serta teruslah menyembah dan memuliakan Tuhan. Percayalah, Dia yang berjanji itu setia.
Mengenakan Selengkap Senjata Allah
“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Efesus 6:11)
Dalam Efesus 6 kita bisa menemukan perlengkapan senjata rohani: ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan (righteousness), sepatu kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, perisai iman, ketopong keselamatan dan pedang roh. Selain itu kita perlu bertekun dalam doa di dalam Roh (ayat 18). Namun tidak selalu kita sadar bahwa kita perlu mengenakan SELURUH perlengkapan senjata itu setiap saat. Terutama pada masa-masa peperangan rohani seperti saat ini, kita perlu bersiaga penuh. Mengapa kita perlu mengenakan senjata-senjata ini dengan lengkap?
Supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis (Ef. 6:11). Musuh kita memiliki strategi berdasarkan tipu daya yang telah ia rancang dengan baik untuk menyerang dan menjatuhkan kita. Musuh kita adalah roh-roh yang terorganisir dan satu-satunya jalan untuk mematahkan rencana jahat ini adalah dengan mengenakan selengkap senjata rohani dengan disiplin dalam hidup kita.
Supaya kita dapat melakukan perlawanan. “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu” (Efesus 6:13). Musuh telah menyiapkan suatu “hari yang jahat” di mana mereka menjalankan strategi untuk menyerang Anda. Namun pada saat itu Tuhan justru ingin agar kita diam bertahan dan pasif, Ia ingin kita bisa melakukan perlawanan. Gunakan pedang roh, yaitu firman Allah, untuk menghancurkan kuasa musuh.
Supaya kita bisa tetap berdiri sesudah menyelesaikan pertempuran. Sejarah membuktikan banyak yang telah berguguran dan tidak menyelesaikan pertempuran rohani dengan baik. Mereka mungkin tetap menang, tapi mereka mengalami luka dan kerugian secara rohani maupun jasmani akibat serangan dari si jahat. Mengapa? Karena mereka tidak mengenakan selengkap senjata yang Tuhan sediakan bagi mereka. Tuhan ingin kita “tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu”. Saat ini musuh memang berusaha menyerang kita sebagai gereja Tuhan, namun janjiNya adalah bahwa mereka yang justru tidak akan bisa bertahan melawan kita (Matius 16:18). Kenakanlah selengkap senjata Allah setiap hari.
Makna Kenaikan Tuhan Yesus
Tidak hanya kelahiran, kematian dan kebangkitanNya, ternyata peristiwa kenaikan Tuhan Yesus memiliki beberapa makna yang signifikan bagi orang-orang percaya. Yang pertama, kenaikan Tuhan Yesus membawa janji tentang kedatanganNya yang kedua kali. “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: ‘Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.’” (Kisah Rasul 1:9-11)
Makna kedua adalah kenaikan Tuhan Yesus membuat Dia bisa menjadi Imam Besar Agung bagi kita. Tuhan Yesus naik ke surga dengan berkemenangan. Seluruh roh kegelapan, semua malaikat dan mahluk surgawi melihat tatkala Ia terangkat dan melintasi semua langit dengan segenap kuasa (otoritas) atas surga dan bumi. Di sebelah kanan Allah Bapa, Tuhan Yesus duduk menjadi Imam Besar bagi kita. Dialah yang menerima persembahan persepuluhan kita (Furthermore, here [in the Levitical priesthood] tithes are received by men who are subject to death; while there [in the case of Melchizedek], they are received by one of whom it is testified that he lives [perpetually], Ibrani 7:8 Amplified). Sebagai Imam Besar Agung, Dialah yang menjadikan FirmanNya yang kita ucapkan menjadi kenyataan (Therefore, holy brethren, partakers of a heavenly calling, consider Jesus, the Apostle and High Priest of our confession, baca Ibrani 3:1 dan 4:14). Sebagai Imam Besar, sekali untuk selamanya Ia berkorban atas dosa kita.
Berikutnya, kenaikan Tuhan Yesus membuat Dia menjadi Pengantara atau Pendoa Syafaat kita yang agung. “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibrani 7:25). Selain itu, kenaikan Tuhan Yesus membawa kedatangan Roh Kudus bagi kita! Roh Kudus memberi kita kuasa, sehingga kita tidak perlu hidup dalam keterbatasan dan kelemahan kita. Semua ini diawali dengan naiknya Tuhan ke surga.
Selamat Hari Kenaikan Kristus!
Labor of Love: Semua Karena Cinta
Yakub pernah bekerja untuk Laban, pamannya, untuk mendapatkan Rahel, putri bungsu Laban yang sangat cantik. Kitab Kejadian 29:20 menulis: “Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.” Walaupun kemudian Laban menipu Yakub, sehingga ia harus bekerja ekstra tujuh tahun lagi untuk memperoleh Rahel, Yakub menjalaninya dengan tabah dan tekad yang bulat. Mengapa? Karena cintanya kepada Rahel.
Ketika kita mulai meninggalkan kasih kita yang mula-mula kepada Tuhan, segalanya mulai terasa begitu berat. Dan kenyataannya, mengikut Tuhan adalah sesuatu yang memang tidak mudah. “Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kisah Rasul 14:22). Namun, kasih kepada Kristus membuat segala perintahNya itu menjadi ringan dan tidak berat (1 Yohanes 5:3). Segala yang harus dijalani itu adalah sebuah labor of love bagi kita. Mengapa para suami mau bekerja keras bagi keluarganya? “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia” (Yohanes 16:21). Mengapa para ibu rela menderita sakit bersalin demi anaknya? Segalanya adalah karena cinta.
Dalam pernikahan, saya mendengar kenyataan hidup bahwa gairah cinta itu hanya dialami di tahun-tahun awal saja, selanjutnya semuanya hanya berjalan karena komitmen. Inikah kehendak Tuhan? Mari renungkan firman ini: “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu… Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wahyu 2:2-4) Komitmen bisa membuahkan jerih payah, ketekunan, dan kesabaran yang luar biasa. Namun perhatikan teguran Tuhan Yesus pada jemaat di Efesus: mereka telah meninggalkan cinta mereka yang semula. Ya, memang apa yang mereka lakukan memang luar biasa, tapi itu bukanlah suatu labor of love. Semua bukan lagi karena cinta.
Kasih Kristuslah yang akan memampukan Anda melewati apapun dalam hidup Anda! “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Roma 8:35)
CintaNya membuat Anda lebih dari pemenang (ayat 37). Semuanya adalah karena cinta.
It’s Harvest Time!
Terkadang begitu mudah bagi kita untuk melupakan bahwa inilah masa tuaian jiwa-jiwa itu. Bagi para petani, masa tuaian atau panen raya adalah masa di mana mereka harus bekerja keras, berpanas-panas di bawah matahari, mengeluarkan seluruh yang mereka miliki untuk memetik hasil yang sudah tersedia. Jika tidak demikian, panen mereka akan tersia-sia dan terjadi kerugian yang sangat mahal. Tuhan ingin mengingatkan hal yang sama juga bgi kita: saat ini adalah masa panen raya secara rohani. Ada banyak jiwa-jiwa yang perlu dituai, dan jika tidak dituai segera, suatu saat nanti mereka akan semakin sulit dan bahkan tidak dapat dituai lagi.
Lihatlah sekelilingmu! Ketika kita hanya memandang hal-hal yang berkaitan dengan diri sendiri, kita bisa tidak menyadari bahwa ada banyak jiwa-jiwa di sekeliling kita harus segera dituai. Mulailah membuka mata untuk memandang orang-orang yang memerlukan kasih dan kuasaNya di sekelilingmu. Realita yang Anda lihat akan mengubah perspektif Anda. Jangan sampai jeritan ini terjadi, “Sudah lewat musim menuai, sudah berakhir musim kemarau, tetapi kita belum diselamatkan juga!” (Yeremia 8:20). Tuaian tidak bisa ditunda lagi. Now is the harvest time.
Berdoa, minta Tuhan mendatangkan penuai. “Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.’” (Matius 9:37-38) Ketika Anda melihat tuaian yang sangat besar, mudah sekali untuk menjadi frustasi karena tenaga yang ada sangat terbatas. Atau, ada pula yang malah membaktikan seluruh tenaganya sampai kehilangan kesehatan, keluarga dan lain-lainnya. Namun Tuhan Yesus mengajar, tuaian ini milikNya. Dialah Tuan yang empunya tuaian (Lord of the harvest). Mintalah lebih banyak pekerja-pekerja. Ada banyak pekerja yang saat ini perlu dibwa oleh Tuhan ke ladang panen raya.
Kita adalah orang-oang yang diutus. Kita sudah menerima otoritas dan kuasa atas penyakit dan kuasa kegelapan. Kita telah menerima mandat dari Tuhan. Saatnya kita melangkah, jiwa-jiwa menanti uluran tangan kita.
Hidup Rendah Hati Di Hadapan Tuhan
Tuhan hanya menginginkan tiga hal dari hidup kita: berlaku adil (do the right things), mencintai kesetiaan (berjalan di dalam kasih) dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Pada ayat-ayat sebelumnya, nabi Mikha mencatat keluhan Tuhan mengenai bangsa Israel (ayat 2). Tuhan ingin bangsa Israel kembali pada kehidupan yang rendah hati di hadapanNya, dan uniknya ia mengingatkan bangsa Israel pada tiga kejadian yang pernah terjadi dalam sejarah leluhur Israel sebelumnya. Tiga kisah ini menunjukkan tiga alasan mengapa kita perlu belajar hidup rendah hati di hadapanNya.
Pertama, Tuhan mengingatkan bahwa Ia telah menebus kita dari perbudakan dosa (ayat 4). Dahulu kita adalah budak dosa yang ditebus hanya oleh belas kasih Tuhan. Jangan lupakan asal usul kita, remember where you came from.
Kedua, Tuhan mengingatkan bahwa ada banyak hal yang bisa terjadi di luar kendali kita (ayat 5). Saat bangsa Israel ada di padang gurun, raja Balak dari Moab membayar nabi Bileam untuk mengutuk Israel sampai 3 kali, namun yang terjadi adalah Tuhan menaruh kata-kata berkat sehingga Bileam terus menerus memberkati Israel. Semua ini terjadi tanpa sepengetahuan Israel. Jika kita hidup sehat dan diberkati, ingatlah bahwa sebenarnya ada banyak hal yang dilakukan musuh di luar kontrol kita, namun Tuhan masih melindungi dan memberkati kita.
Terakhir, Tuhan mengingatkan bahwa hanya Dia yang mampu membebaskan kita dari masa lalu dan membawa kita masuk ke masa depan kita (ayat 5). Itulah yang terjadi di Sitim dan Gilgal. Di Sitim, bangsa Israel jatuh dalam dosa dengan wanita-wanita Moab. Di Gilgal, Tuhan membersihkan semua noda dosa masa lalu melalui sunat dan perayaan Paskah. Di Gilgal pula Tuhan mempersiapkan Yosua menyeberang sungai Yordan untuk masuk ke dalam masa depan mereka. Mari hidup dalam kerendahan hati di hadapanNya.
Hidup Karena Anugerah
Ada tiga hal yang sangat memberkati saya dari ayat ini. Yang pertama, kita adalah sebagaimana kita ada karena kasih karunia atau anugerah Tuhan. Ketika kita sadar bahwa keberadaan, keadaan, bahkan kelangsungan hidup kita itu karena anugerah, semuanya berubah. Tidak lagi kita mengandalkan kekuatan sendiri atau menyombongkan diri, karena semuanya itu anugerah. Tidak lagi kita terlalu lama marah karena orang lain menghambat atau mau mencelakakan kita, karena kita tahu bahwa kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh manusia atau situasi apapun. Tidak lagi kita membenci diri sendiri, karena semuanya adalah anugerah.
Hal kedua, kita bisa tidak menyia-nyiakan kasih karunia dari Tuhan. Banyak orang mengubur talentanya, dan membuang kesempatan yang Tuhan beri. Kita semua bisa saja menyia-nyiakan anugerah Tuhan, tapi kita juga bisa menghargai dan memanfaatkannya dengan sungguh. Mungkin kita tidak menyadari anugerah Tuhan dalam hidup kita, seperti janda di Sarfat. Nabi Elisa bertanya, ”Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Janda itu menjawab, "Hambamu ini tidak punya sesuatu apa pun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." (2 Raja-Raja 4:2) Jangan pandang enteng pada apa yang ada di tangan kita. Di tanganNya, segalanya adakan menjadi berlipatganda.
Yang terakhir, kasih karunia menjadikan kita lebih produktif. Banyak orang berasumsi bahwa hidup oleh anugerah itu artinya selalu diberi kemudahan. Namun di sini kita juga belajar bahwa anugerah itu justru memampukan kita bekerja lebih keras lagi. AnugerahNya memberikan energi ilahi, fresh anointing, ide-ide cemerlang, dan kekuatan untuk hidup lebih produktif bagi kerajaan Tuhan. Anugerah tidak diberi supaya kita menjadi malas, namun agar kita lebih giat bekerja. Namun jangan lupa, itu semua bukannya oleh kuat dan gagah kita, namun karena kasih karunia. Mari hidup dalam anugerahNya.
God’s Favor in Relationships
Keberhasilan dan kegagalan dalam hidup Anda dipengaruhi oleh hubungan. Entah dalam konteks keluarga, pekerjaan, bisnis, pertemanan, pasangan hidup—Anda tidak akan lepas dari hubungan. Banyak orang berusaha keras untuk berhasil dalam hubungan, begitu ingin disenangi orang, sampai kehilangan harga diri dan jati diri. Ada pula yang memakai cara-cara negatif seperti manipulasi, intimidasi bahkan kuasa kegelapan untuk membuat orang lain menyetujui dan menerima diri mereka.
Namun Tuhan memiliki jawabannya: favor (perkenanan, kesukaan). Favor adalah akar dari kata “favorit”. Misalnya, jika Anda memiliki tim sepak bola favorit, artinya Anda lebih menyukai tim itu dari yang lain. Favor adalah bentuk dari kasih karunia Allah yang memampukan Anda untuk berhasil, terutama dalam hubungan. Ketika Tuhan menyertai Anda, maka favor juga mengalir dalam hidupmu. Mari renungkan beberapa prinsip firman Tuhan berikut ini.
God’s favor in business relationships. Karena Tuhan menyertai Yusuf, maka atasannya menyukai dia. Hal ini terjadi beberapa kali dalam hidupnya: Potifar menyukainya (Kejadian 39:1-5), kepala penjara menyukainya (Kejadian 39:20-23), bahkan Firaun juga menyukainya (Kejadian 41:39-44,55). Tentunya, favor bukan pengganti kerajinan, hikmat dan kompetensi. Namun tanpa favor, maka Anda akan mengalami kesulitan dalam bisnis Anda.
God’s favor in finding life partner. Perkenanan Tuhanlah yang membuat Anda menemukan pasangan hidup Anda. “Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN” (Amsal 18:22). Dalam versi NASB, “He who finds a wife finds a good thing and obtains favor from the LORD.”
God’s favor on His church. “…mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah Rasul 2:47). Gereja mula-mula memiliki “favor with all the people” (NASB), sehingga orang-orang tertarik oleh kuasa Tuhan untuk bergabung dengan mereka.
Masih banyak lagi contoh favor dari Tuhan dalam hubungan. Kesimpulannya: jangan andalkan kekuatanmu untuk disukai orang lain. Mintalah dan andalkan selalu favor dari Tuhan dalam setiap hubungan Anda. Tuhan memberkati.
Dia Tetap Setia
“Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” (II Timotius 2:13)
Karakter Tuhan yang satu ini pasti akan mengubahkan hidup Anda: Dia adalah Allah yang setia. Walau begitu sederhana, namun tanpa pengertian dari Roh Kudus maka kita akan kehilangan banyak hal. Adalah sangat krusial untuk mengerti bahwa keberhasilan hidup Anda adalah karena kesetiaan Tuhan saja. Mari renungkan bersama beberapa bentuk kesetiaanNya dalam hidup kita.
Dia mengampuni segala dosamu. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (I Yohanes 1:9) Karena Dia setia, maka Dia akan mengampuni dosa kita, jika kita mengakuinya. Tetap mempertahankan dosa dan tidak mau datang pada Tuhan hanya akan membawa beban yang semakin besar. Anda akan berubah dan hidup semakin kudus hanya karena kesetiaanNya. “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” (I Timotius 5:23-24)
Dia memberikan jalan keluar. “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (I Korintus 10:13) Tuhan menunjukkan kesetiaanNya pada saat Anda menghadapi pencobaan. Pertama, Ia tidak akan membiarkan pencobaan itu melebihi kekuatan Anda. Kedua, Ia akan memberikan jalan keluar. Jangan hadapi pencobaan dengan kekuatan sendiri. Hadapi dengan kesetiaanNya, Anda akan berkemenangan.
Dia menggenapi setiap janjiNya. Mengapa kita bisa berani memegang janjiNya di tengah kesulitan apapun? Karena Dia yang berjanji itu setia! “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia” (Ibrani 10:23). Apa rahasia iman Abraham dan Sara? “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.” (Ibrani 11:11). Amin!
Berani Kembali
Ketika Anda mengalami kegagalan atau kesalahan, salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah kembali. Tidak mudah untuk kembali kepada Tuhan, keluarga, pelayanan, atau rekan kerja, dan memulai kembali apa yang seharusnya Anda lakukan. Semua ini butuh keberanian. Saya percaya Tuhan akan memampukan Anda untuk berani menghadapi siapapun yang harus Anda hadapi. Sudah saatnya untuk “kembali.”
Kembali kepada Bapa. Si anak bungsu (dari kisah anak yang hilang, Lukas 15) baru pulang ke rumah menemui ayahnya saat dia sadar bahwa ia “berdosa kepada surga dan kepada bapa.” Kesadaran adalah titik awal pertobatan. Ketika Anda sadar bahwa dosa hanya merugikan diri dan membuang percuma hari-hari hidup ini, maka Anda mengerti bahwa sudah saatnya kembali pulang. Tahukah Anda, bahwa seberapapun parah dan hancurnya kehidupan Anda, Bapa akan selalu menyambut Anda kembali?
Kembali kepada saudara yang pernah dilukai. Yakub pernah menipu kakak sulungnya Esau demi memperoleh hak kesulungan. Kemudian ia lari dan hidup jauh dari kakaknya karena takut. Setelah berkeluarga, bertahun-tahun kemudian Yakub sadar bahwa sudah saatnya untuk kembali bertemu dengan abangnya. Walau sudah melakukan berbagai persiapan, Yakub masih sangat tidak tenang. Sangat menarik bahwa pergumulan Yakub dengan malaikat Tuhan terjadi sebelum ia bertemu dengan Esau (Kejadian 32-33), dan akhirnya dua kakak beradik ini dapat bersua dengan damai. Mungkin hal yang sama juga perlu Anda lakukan. “Bergumullah” dengan Tuhan dalam doa sampai ia menyatakan berkat dan penyertaanNya, setelah itu kembalilah pada saudaramu.
Kembali kepada atasan yang dirugikan. Kitab Filemon mengisahkan bagaimana seorang hamba bernama Onesimus yang lari dari tuannya (Filemon), dan kemudian bertemu Paulus saat dalam penjara. Onesimus bertobat karena pelayanan Paulus, kemudian Paulus mengirim surat pada Filemon agar ia menerima Onesimus kembali. Mungkin Tuhan saat ini menggerakkan Anda untuk kembali membuka hubungan dengan atasan yang pernah Anda rugikan. Berdoalah agar Tuhan mengirim “Paulus” yang menjembatani kedatangan Anda.
Sudah saatnya untuk kembali.
Apa yang Sedang Anda Kerjakan?
Salah satu kunci keberhasilan adalah melakukan evaluasi dari waktu ke waktu. Dalam dunia bisnis, melakukan appraisal pada semua karyawan adalah suatu keharusan. Kitapun perlu belajar melakukan refleksi dan evaluasi hidup. Ada hal-hal yang negatif yang perlu Anda tinggalkan, dan ada tujuan surgawi yang harus terus Anda capai. Saatnya merenungkan bersama mengenai hari-hari kita.
Apakah yang Anda kerjakan? Tuhan Yesus selalu mengerjakan apa yang Dia lihat Bapa sedang kerjakan (Yohanes 5: 19-20). Inilah rahasia hidup yang produktif. Berpartisipasilah, ikutilah apa yang sedang Bapa kerjakan.
Ke mana Anda memberikan waktu Anda? “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -- karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa --, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Pet. 4:1,2) Dosa dan keinginan daging selalu membuang waktu sia-sia. Pakai sisa waktu yang ada untuk melakukan kehendakNya.
Apakah hal nomor satu dalam hidup Anda? Matius 6:33 mengajarkan agar kita mencari dahulu kerajaan dan kebenaranNya. Tuhan ingin menjadi peringkat pertama dalam hidup kita.
Apakah Anda berjalan dalam kasih karunia? “Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Galatia 3:3) Jangan hidup dengan kekuatan sendiri. Mari bergantung sepenuhnya pada Tuhan.
Apakah Anda bijaksana dalam keuangan? Kembalikan milik Tuhan (Maleakhi 3:10-12), menabunglah, dan kelolalah berkat Tuhan dengan baik. Mintalah hikmat Tuhan (Yakobus 1:5-6)
Apakah Anda berjalan dalam kasih? Orang yang hidup hanya bagi dirinya sendiri adalah orang yang paling malang. Alirkan sesuatu bagi orang lain. Berikan pengampunan, perhatian dan pengorbanan. Anda akan menjadi terang dunia. Hal penting lainnya adalah: jangan tinggalkan kasih yang mula-mula. Biarkan hatimu dibakar oleh cinta ilahi yang tak pernah padam.
Anak Panah di Tangan Pahlawan
(Mazmur 127:4-5)
Hal-hal luar biasa sedang Tuhan lakukan melalui orang muda. Mereka adalah anak-anak panah di tangan Tuhan, sang Pahlawan yang gagah perkasa. Ia membidik dan melepaskan anak panahNya ke arah sasaran, dan menghancurkan musuh-musuhNya. Orang muda, engkaulah anak panah kemenangan di tangan Tuhan. Biarkan dirimu dibawa oleh Tuhan dalam rencanaNya yang sempurna.
Yusuf berumur 17 tahun ketika ia menerima mimpi bahwa ia akan menjadi pemimpin yang luar biasa (Kej. 37:2-5). Banyak anak muda menerima panggilan Tuhan pada usia belasan tahun, dan mereka akan dibentuk oleh Tuhan menjadi pemimpin-pemimpin yang mengubah nasib bangsanya. Sejak kecil, Samuel sudah melayani Tuhan dan ia mendengar suara Tuhan diperkirakan pada usia remaja belasan tahun (1 Sam 3: 1,8). Saat ini, para remaja belasan tahun akan memiliki hubungan yang begitu akrab dengan Tuhan dan akan menerima berbagai pewahyuan yang mengubah kehidupan banyak orang. Daud juga diurapi menjadi raja pada masa remajanya. 1 Samuel 16:12 menulis bahwa mukanya masih “kemerah-merahan”. Beberapa tahun kemudian Tuhan memakai Daud untuk mengalahkan dan membunuh Goliat (1 Sam. 17:55-58). Tuhan sedang mengurapi anak muda usia 15-25 untuk menghancurkan raksasa-raksasa yang selama ini menjerat bangsa kita dalam ketakutan.
Raja Hizkia berusia 25 tahun ketika menjadi raja (2 Raja-Raja 18:2). Ester menjadi ratu pada masa mudanya. Raja Yosia berusia 26 tahun ketika ia memerintahkan untuk memperbaiki rumah Tuhan, sehingga kitab Taurat ditemukan kembali dan kebangunan rohani nasional terjadi (2 Raja-Raja 22:1,3-8). Jangan lupa, bahwa Yesus mati di kayu salib pada usia 33,5 tahun. Tuhan sedang mempercayakan tanggung jawab yang begitu signifikan pada mereka yang berusia sekitar 25 – 35 untuk menjadi pemimpin yang mengubah bangsa-bangsa.
Sudah waktunya orang muda tidak lagi membuat hidupnya tersia-sia. Tuhan ingin membentuk engkau menjadi anak-anak panah yng membawa kemenangan dalam peperangan. Berikan dan biarkan dirimu dipakai seturut dengan kehendakNya!
Ia Menampung Air Matamu
Tuhan kita adalah Pribadi yang paling mengenal diri kita. Dia turut merasakan perasaan dan kelemahan kita. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita…” (Ibrani 4:15). Tuhan Yesus adalah Imam Besar yang saat ini terus berdoa bagi kita, dan Ia sangat peduli pada setiap air mata dan penderitaan yang kita alami. Ia menampung air mata kita dalam kirbatNya.
Air Mata Para Pemimpin Rohani Kita. “Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.” (Kisah Rasul 20:31) Memimpin bukanlah sesuatu yang mudah. Seringkali air mata menetes di pipi (seperti halnya Paulus) ketika kita menghadapi mereka yang Tuhan percayakan di bawah kepemimpinan kita. Namun percayalah, Dia mengerti penderitaanmu. Ia masih menampung semua air matamu.
Tangisan anak-anak rohani kita. “Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku” (2 Timotius 1:4). Paulus mengingat air mata anak-anak rohaninya.
Ia masih tergerak oleh belas kasihan melihat penderitaan manusia. Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan ketika melihat umat manusia lelah dan terlantar, seperti domba yang tidak bergembala (Matius 9:36). Ketika Ia melihat orang-orang sakit, hatiNya tergerak oleh belas kasihan dan menyembuhkan mereka (Matius 14:14). Orang-orang yang lapar menyentuh hatiNya (Matius 15:32). Sampai saat ini Tuhan Yesus masih tergerak oleh belas kasihan ketika Ia melihat penderitaan umat manusia.
A Work in Progress
Ketika kita mengalami masalah yang seolah tak kunjung selesai, bisa saja kita menjadi tawar hati. Mungkin kita melihat pada keadaan atau karakter pribadi yang sejak dahulu belum berhasil kita ubah, maka kita menyimpulkan bahwa kondisi ini sudah final dan harus diterima begitu saja. “Yah, saya memang akan selalu seperti ini, gagal dan tidak bisa berubah,” adalah salah satu komentar yang sering diucapkan ketika kita kecewa. Namun Tuhan belum selesai dengan Anda dan saya. Tepatnya, kita semua adalah a work in progress. Pernahkah Anda menyaksikan pembangunan sebuah rumah atau gedung? Kelihatannya kacau dan tidak rapi, namun dari hari ke hari perkembangan terjadi: fondasi diletakkan, tiang-tiang dipancangkan, dan tembokpun mulai tersusun. Jangan menyerah dan memvonis diri untuk gagal, namun biarkan Tuhan menyelesaikan pekerjaanNya sampai selesai.
Pada saat seperti ini, sangat penting sekali untuk memperbarui pikiran Anda sesuai Firman Tuhan. Jangan biarkan kekecewaan dan keputusasaan menguasai hidupmu. Mari renungkan beberapa prinsip firman Tuhan berikut ini.
Tuhan akan menyelesaikan pekerjaanNya dalam hidupmu. “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6)
Lupakan yang telah di belakangmu dan fokus pada apa yang Tuhan sediakan di depanmu. “…tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14)
Bersukacita dan miliki sikap positif. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yakobus 1: 2-4)
Mari belajar dari Ayub, di tengah pencobaan yang luar biasa, ia percaya bahwa Tuhan tahu jalan hidupnya. Ia yakin bahwa rencana Tuhan mengujinya adalah bukan untuk mencelakakan, tapi agar ia bisa keluar seperti emas.
